HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG DAUN BANGUN BANGUN DENGAN PENINGKATAN PRODUKSI ASI DI DESA PAKKAT HAUAGONG KECAMATAN PAKKAT TAHUN 2022
Abstract
Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi paling baik untuk bayi, banyak
mengandung makronutrien dan mikronutrien (Andreas et al., 2015; Allen, 2012). WHO
merekomendasikan pada ibu untuk menyusui eksklusif selama 6 bulan kepada bayinya.
Sesudah umur 6 bulan, bayi baru dapat diberikan makanan pendamping ASI (MP - ASI) dan
ibu tetap memberikan ASI sampai anak berumur minimal 2 tahun.
Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan merupakan salah satu dari strategi
global untuk meningkatkan pertumbuhan, perkembangan, kesehatan dan kelangsungan
hidup bayi (WHO 2011). Meskipun banyak manfaat pemberian ASI eksklusif bagi bayi, ibu,
keluarga, dan masyarakat namun cakupannya masih rendah di berbagai negara termasuk
Indonesia. Data Riskesdas tahun 2010 menunjukkan bahwa cakupan pemberian ASI
eksklusif pada bayi sampai enam bulan hanya 15,3% (Kemenkes 2015).
Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam kandungan ASI menjamin status gizi
bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan
bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media, dan infeksi
pernafasan akut bagian bawah. Kolostrum mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu
matang (matur) (Kemenkes, 2014).
Dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian anak. United Nation
Childrens Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) merekomendasikan
sabaiknya anak hanya disusui ASI selama paling sedikit enam bulan. Pemberian ASI Eksklusif
merupakan pemberian ASI dengan tidak memberi bayi makanan atau minuman lain, termasuk
air putih, selain menyusui ASI (Kecuali obat-obatan dan vitamin atau mineral tetes, ASI perah
juga diperbolehkan) (Kemenkes, 2014).
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia (2015) Persentase bayi 0-5 bulan yang masih
mendapat ASI eksklusif sebesar 54,0%, sedangkan bayi yang telah mendapatkan ASI eksklusif
sampai usia enam bulan adalah sebesar 29,5%. Mengacu pada target Renstra tahun 2016 yang
sebesar 42%, namun secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif sebesar 80%. Melihat
hal ini pemberian ASI eksklusif belum memenuhi target nasional. Di Sumatera Utara untuk
pemberian ASI Eksklusif sudah mencapai target yaitu sebesar 46,8% dari target Renstra 42%
namun belum memenuhi target nasional.
Dalam Jurnal Iwansyah (2017) mengatakan bahwa Air Susu Ibu (ASI) memiliki peranan
P a g e | 4
penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama di periode sensitif (0-24 bulan).
Keterbatasaan produksi ASI yang tidak mencukupi menjadi alasan yang sering dilaporkan oleh ibu
pada masa awal menyusui. Penggunaan senyawa galaktagogum yang berasal dari tanaman merupakan
salah satu upaya yang dilakukan dalam mengatasi hal tersebut. Daun bangun-bangun (Coleus
Amboinicus L), secara empiris telah diketahui bermanfaat untuk meningkatkan produksi ASI.
Beberapa penelitian telah membuktikan kebenaran khasiat daun Torbangun sebagai pelancar ASI.
Ketersediaan ASI yang mencukupi selain diperoleh melalui pemenuhan kebutuhan gizi selama
periode menyusui, juga dapat dibantu dengan mengkonsumsi makanan/ramuan yang berkhasiat
sebagai laktagogum (menstimulasi produksi ASI). Maka sebagai anak bangsa yang berasal dari suku
bangsa Batak Simalungun, Dr. Rizal Damanik melakukan penelitian tentang penggunaan sayur
Bangun-bangun di kalangan wanita Batak yang sedang menyusui. Masyarakat Batak di Propinsi
Sumatera Utara memiliki tradisi dan kepercayaan akan khasiat sayur Bangun-bangun sebagai
laktagogum (penstimulasi produksi air susu). Sangat disayangkan karena sifat tanaman Bangunbangun adalah tanaman liar, maka potensi khasiat dari tanaman ini belum mendapat perhatian yang
cukup memadai dari kalangan ilmuawan.
Daun Bangun - bangun (Coleus amboinicus Lour) dipercaya dapat merangsang
produksi ASI saat menyusui (Damanik et al.,2001). Daun bangun - bangun memiliki
kandungan fitokimia meliputi karbohidrat, gula deoksi, alkaloid, sterol, glikosida, senyawa
fenolik, tanin, flavonoid, dan asam amino (Nagalakshmi et al ., 2012). Polifenol, tanin,
dan alkaloid dapat meningkatkan produksi susu, konsentrasi protein susu dan tingkat ovulasi,
meningkatkan pencernaan protein, dan membantu dalam mengeluarkan air susu (Mohanty et
al ., 2014)
Hasil suatu survei melaporkan bahwa 38% ibu menghentikan pemberian ASI bagi bayi dengan
alasan produksi ASI tidak mencukupi. Obat laktogogum moderen/sintetik tidak banyak dikenal, oleh
karena itu perlu dicari obat laktagogum alternatif (Balitbang Depkes, 2014).
Berdasarkan data diatas, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan pengetahuan ibu tentang
manfaat daun bangun bangun dengan peningkatan produksi ASI untuk ibu menyusui di Desa Pakkat
Hauagong Kecamatan Pakkat Tahun 2022.


